Pancasila Bukan Monumen

Refleksi Hari Lahir Pancasila · 1 Juni 2026

Setiap 1 Juni, kita mengenang Pancasila. Tapi apakah kita benar-benar merayakan sesuatu yang hidup, atau sekadar memoles prasasti yang sudah lama beku?

Siapa yang Dimaksud “Seluruh Rakyat”?

Sila Kelima berbunyi: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bukan sebagian. Bukan yang punya akses. Bukan yang dekat kekuasaan. Seluruh. Itu kata yang berat, kalau kita mau jujur membacanya.

Keadilan sosial bukan soal pertumbuhan ekonomi yang angkanya naik di laporan resmi. Ia soal apakah seorang ibu di kampung bisa menyekolahkan anaknya tanpa takut sekolahnya hilang. Soal apakah petani masih punya tanah yang ia garap puluhan tahun. Soal apakah nelayan masih bisa melaut tanpa wilayah tangkapnya berubah jadi konsesi.

Di berbagai penjuru Indonesia, masyarakat adat dan komunitas lokal terus menghadapi ancaman kehilangan tanah, hutan, dan sumber penghidupan yang mereka jaga turun-temurun. Atas nama investasi, infrastruktur, atau proyek strategis, ruang hidup mereka dipersempit, sering tanpa dimintai pendapat, apalagi persetujuan. Mereka yang paling lama menjaga hutan justru paling sering disebut penghambat pembangunan.

“Ketika pembangunan menggusur manusia, yang hilang bukan hanya aset ekonomi. Yang hilang adalah identitas, budaya, dan martabat.

Ketika Kebijakan Memilih Siapa yang Berhak

Kebijakan adalah wajah nyata dari nilai-nilai yang kita pilih sebagai bangsa. Dan wajah itu tidak selalu sedap dipandang. Pendidikan adalah hak konstitusional, bukan fasilitas yang bisa ditukar begitu saja dengan program ekonomi lain, seberapa pun niatnya baik. Ketika muncul kasus fasilitas pendidikan yang dikorbankan demi program lain, termasuk yang mengatasnamakan semangat ekonomi Pancasila sekalipun, kita berhak bertanya: apakah kita sedang menukar satu hak dasar dengan hak dasar yang lain?

Bung Hatta punya pandangan yang jernih soal ini: koperasi adalah alat untuk memperkuat kemandirian rakyat, bukan alat untuk menggusur ruang publik. Pembangunan yang memilih ekonomi di atas manusia bukan pembangunan ala Pancasila. Ia adalah pengkhianatan terhadapnya. Demokrasi juga tidak cukup diukur dari terselenggaranya pemilu. Ia diukur dari kemampuan warga untuk mempertahankan haknya secara setara, termasuk hak atas pendidikan, tanah, dan suara dalam pengambilan keputusan yang menyentuh hidupnya.

Mewariskan Bumi atau Mewariskan Utang Ekologis?

Keadilan sosial tidak berhenti pada manusia yang hidup hari ini. Ia juga bicara soal anak cucu kita yang belum lahir. Komunitas adat adalah garda terdepan penjaga lingkungan, bukan karena romantisme, tapi karena selama berabad-abad mereka membangun sistem pengetahuan dan praktik yang menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika hutan adat dihancurkan atau dialihfungsikan, yang terancam bukan hanya mereka. Yang terancam adalah daya dukung bumi yang akan kita wariskan. Sila Kelima, jika kita baca dengan serius, mengharuskan kita mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab lintas generasi. Pertumbuhan hari ini yang memakan masa depan bukan keadilan. Ia adalah perampasan.

1 Juni: Perayaan atau Pertanyaan?

Hari Lahir Pancasila tidak boleh hanya jadi seremoni. Pancasila adalah alat kritik, terhadap kebijakan yang menjauh dari cita-cita keadilan, terhadap praktik yang meminggirkan yang lemah, terhadap diri kita sendiri yang sering membiarkan ketidakadilan berlangsung di depan mata. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia bukan sekadar frasa indah di atas kertas. Seperti doa yang baik, ia tidak selesai saat diucapkan. Ia harus menjadi kata kerja, yang menubuh dalam sikap, menjelma dalam tindakan, dan nyata dalam kebijakan.

Pertanyaan yang perlu kita bawa pulang hari ini: “sejauh mana kita masing-masing bersedia menjadikan Sila Kelima sebagai kata kerja dalam hidup sehari-hari?”

Selama Pancasila hanya tinggal monumen, pertanyaan tentang keadilan akan terus tinggal pertanyaan. Jawaban dimulai dari kita, dari sikap yang kita pilih, dari suara yang kita angkat, dari ketidakadilan kecil yang kita tolak untuk didiamkan.

Selamat merefleksikan Hari Lahir Pancasila!