
Minggu, 26 April 2026, saya berbincang dengan warga Kampung Sehat di Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Dalam perbincangan tersebut, saya ingin mendengar langsung pendapat warga mengenai rencana penerapan label depan kemasan informasi nilai gizi oleh Kementerian Kesehatan pada produk makanan dan minuman siap saji serta olahan.
Label yang direncanakan adalah Nutri Level, menggunakan huruf A, B, C, dan D dengan warna yang berbeda. Pertanyaannya, apakah label ini nantinya mudah dipahami oleh masyarakat? Apakah masyarakat benar-benar mengetahui arti dari simbol dan warna yang ditampilkan?
Ayu Soraya (38 tahun) menyampaikan bahwa ia tidak memahami maksud dari label Nutri Level dengan huruf A, B, C, dan D tersebut. Menurutnya, label itu tidak memberikan keterangan yang jelas. Ia justru lebih memilih label peringatan karena secara tegas mencantumkan informasi seperti “tinggi gula”, “tinggi garam”, dan “tinggi lemak”. Baginya, label peringatan lebih mudah dipahami karena langsung memberikan informasi yang jelas tentang kandungan produk yang dibeli.
Hal serupa disampaikan oleh Fitri Nastiti Wulandari (37 tahun). Ia mengaku tidak mengetahui arti dari label Nutri Level dan juga belum pernah mendapatkan sosialisasi terkait hal tersebut. Fitri berharap label yang digunakan adalah label yang mudah dilihat, dibaca, dan dipahami, seperti label peringatan dengan tulisan yang besar dan jelas. Menurutnya, keterangan seperti “tinggi gula” pada kemasan minuman akan langsung memberi pemahaman kepada konsumen bahwa produk tersebut mengandung gula tinggi.
Sementara itu, Sanuri (27 tahun), seorang ayah dengan dua anak, mengaku jarang membaca label informasi nilai gizi pada kemasan karena ukuran tulisannya terlalu kecil. Ia merasa informasi tersebut sulit dibaca dan kurang menarik perhatian. Sanuri bahkan berpendapat bahwa ukuran tulisan yang kecil membuat konsumen cenderung mengabaikan informasi penting terkait kandungan produk.
Label Peringatan Lebih Baik.
Dari hasil perbincangan dengan warga, terlihat bahwa tidak semua masyarakat mengetahui dan memahami arti label Nutri Level yang direncanakan oleh Kementerian Kesehatan. Minimnya sosialisasi dan ketiadaan penjelasan yang jelas membuat label tersebut berpotensi membingungkan.
Sebagian warga menilai bahwa label Nutri Level kurang informatif dibandingkan label peringatan yang secara tegas menyebutkan kandungan seperti tinggi gula, tinggi lemak, dan tinggi garam. Oleh karena itu, warga cenderung lebih memilih label peringatan yang dianggap lebih transparan dan mudah dipahami dalam membantu mereka mengambil keputusan konsumsi.
Jakarta, 05 Mei 2026
Yati
Divisi Pendidikan dan Pengorganisasian (DPP

