Pernyataan Pers No. 14/RLS/III/2026

Ada dua video saya terima dari dua orang kawan tinggal di daerah Cibubur, Jakarta Timur. Kedua video kawan itu berisi tentang Jakarta banjir dalam dua hari ini di daerah Cibubur, saat Lebaran kemarin dan hari ini. Kedua kawan saya itu bercerita melalui videonya bahwa di daerah rumah mereka di Pondok Rangon dan Cibubur lainnya dilanda banjir. Melihat video tersebut, aneh juga daerah Pondok Rangon dan Cibubur bisa jebol dan banjir Padahal Pondok Rangon itu jarang sekali banjir dan hampir tidak ada kabar pernah banjir belakangan ini. Banjir di Cibubur ini aneh karena juga membuat jalan tol Jagorawi pada hari Lebaran pertama di hari Sabtu macet akibat banjir di jalur menuju ke Jakarta di KM 12, dekat Cibubur. Sudah lama juga jalan tol di sekitar KM 12 tidak terdengar banjir dari sungai di sampingnya.
Kawan itu mengatakan bahwa banjir di rumah orang tuanya di Cibubur akibat ada tanggul yang rusak akhirnya jebol di aliran sungai Cipinang. Akibatnya air sungai Cipinang di sekitar rumahnya itu meluap hingga naik banjir ke pemukiman. Saya tanya pada kawan lain di daerah Penas Jakarta Timur, dikatakan bahwa sungai Cipinang dan Banjir Kanal Timur airnya biasa saja dan tidak naik. Berarti air di hulu sungai Cipinang di daerah Cibubur meluap karena ada tanggul jebol dan tidak lancar perjalanan airnya ke hulu hingga ke Penas dan Banjir Kanal Timur (BKT).
Seorang kawan di Kabupaten Bogor menginformasikan bahwa sudah 5 hari di Bogor tidak turun hujan. Tetapi Pondok Rangon, Cibubur sekitarnya termasuk di Terminal Kampung Rambutan dan jalan tol Jagorawi Jakarta Timur dilanda banjir sekitar 40 Cm hingga 170 Cm hanya karena hujan di hari Sabtu Lebaran pertama. Media massa mewartakan bahwa menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta ada 46 RT di Jakarta alami banjir. Saya membaca deretan RT yang banjir itu 46 RT dan semuanya di Jakarta Timur. Hari Jumat sebelum Lebaran saya membaca berita prakiraan cuaca dari
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hari Sabtu dan Jumat diperkirakan akan turun hujan sedang hingga lebat di Jakarta dan Kabupaten Bogor. Namun saya tidak membaca atau mendengar Pemprov Jakarta memberikan peringatan dini kepada warga Jakarta tentang prakiraan cuaca BMKG bahwa Jakarta akan turun hujan sedang hingga lebat pada hari Sabtu dan Minggu. Memang pada hari Sabtu, Lebaran hari pertama turun hujan deras di Jakarta dan banjir, khususnya Jakarta Timur. Berarti tidak ada Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) cuaca dan banjir di Pemprov Jakarta kepada warga?
Cuma hari Sabtu kemarin hujan sekitar 4 jam saja. Kok Jakarta Timur banjirnya dahsyat? Jelas ini ada masalahnya serius di sistem drainase di Jakarta Timur. Masalah kerusakan yang sudah lama tetapi tidak dirawat dan tidak diperbaiki. Memang sudah tidak benar lagi dan harus segera diperbaiki drainasenya, sungai-sungai dikeruk juga dirawat secara serius. Seperti sekarang di daerah hulu di Cibubur dan sekitarnya banjir hingga dua hari sementara di hilirnya air sungai biasa saja seperti di daerah Penas hingga Banjir Kanal Timur tempat penampungan aliran sungai Cipinang untuk ke Jakarta Utara. Jadi banjir yang terjadi di 46 RT Jakarta Timur disebabkan air hujan tidak mengalir lancar masuk ke tanah dan ke hilirnya aliran sungai Cipinang. Akibatnya dua hari air banjir tergenang di pemukiman di daerah Cibubur. Juga banjir di jalan tol Jagorawi KM 12 dan Terminal Kampung Rambutan Jakarta Timur.
Gubernur Jakarta perlu mengorganisir Walikota untuk merawat wilayah kerjanya.
Melihat wilayah yang banjir di Cibubur yang biasanya tidak banjir sebelumnya ini memberi peringatan bahwa daerah yang rusak dan tidak pernah dirawat sistem drainasenya sudah melebar dan bertambah ke wilayah Jakarta Jakarta Timur. Sebelumnya langganan banjir ada di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan karena sungai dan drainase tidak dirawat. Jakarta Utara sering banjir karena ada banjir rob rutin. Bisa jadi memang sistem drainase Jakarta sudah harus benar-benar diperbaiki secara total. Rusaknya sistem drainase Jakarta ini bisa jadi disebabkan tidak pernah dirawat dan diperbaiki jika ada kerusakan kecil.
Selama ini Pemprov Jakarta sering mengeluhkan banjir Jakarta akibat permukaan daratan Jakarta sudah lebih rendah dari pantai, adanya banjir kiriman dari rob dan dari Bogor. Kelihatannya Gubernur Jakarta Pramono Anung sudah pusing, hampir menyerah dan pesimis tidak bisa menyelesaikan masalah banjir Jakarta. Gubernur Jakarta Pramono Anung beberapa waktu lalu mengatakan bahwa banjir di Jakarta tidak bisa sepenuhnya ditangani meski normalisasi sungai terus dilakukan. “Normalisasi yang sudah dilakukan di Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut hanya dapat mengurangi banjir. Tetapi kalau kemudian menghilangkan sepenuhnya banjir di Jakarta, enggak mungkin,” kata Pramono di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2026).
Berjalannya waktu akhirnya juga alam menunjukkan bahwa banjir Jakarta itu bisa diselesaikan karena terjadi akibat ulah manusia. Artinya kita, manusia ini juga yang harus memperbaikinya jika ingin Jakarta bisa mengendalikan banjir dan tidak ada banjir di Jakarta. Banjir di hari Lebaran di 46 RT di Jakarta Timur menunjukkan bahwa wilayah ini sungainya dan drainasenya tidak pernah dirawat untuk memperlancar aliran air hingga ke Banjir Kanal Timur (BKT). Begitu pula dengan banjir di wilayah Jakarta Barat, Pusat dan Utara, sama saja, tidak dirawat dan tidak perbaiki jika rusak tapi hanya dibiarkan saja. Untuk itu sudah seharusnya Gubernur mengorganisir para walikota untuk memeriksa dan memperbaiki lalu melaporkan kepada Gubernur mengenai:
1. Bagaimana kondisi drainase dan sungai di wilayahnya? Apa saja yang rusak dan perlu diperbaiki dan dikeruk?
2. Bagaimana dan putuskan yang akan dikerjakan perbaikannya? Apa yang dibutuhkan? Kapan mulai dan selesai pengerjaan perbaikannya?
3. Bagaimana tim pelaksananya di bawah tanggung jawab walikota?
4. Laporkan pada Gubernur, dan gubernur laporkan kepada warga Jakarta.
Kondisi faktual atau nyata detail tentang wilayah, tentu yang mengetahui adalah walikota bukan gubernur. Jika terjadi banjir maka seharusnya tahu sejak awal, yang aktif memberi informasi peringatan dini (early warning system) serta bantuan darurat (emergency respon), bergerak dan bicara pada publik adalah walikotanya bukan gubernur. Dalam hal pengetahuan faktual dan penanganan detail ada di walikota, orang harus melakukan pekerjaan langsung. Gubernur hanya membuat kebijakan bersama lalu mengorganisir pekerjaan perbaikan bersama para walikota serta dinas terkait untuk kota dan warga Jakarta.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
Jakarta, 22 Maret 2026.
Dr. Azas Tigor Nainggolan
FAKTA Indonesia.