Orang Miskin Dianggap Sumber Masalah dan Harus Digusur Paksa dari Pinggir Rel Kereta Senen

Pernyataan Pers No. 17/RLS/III/2026

Foto : detik.com

Diberitakan bahwa pada hari Kamis, 26 Maret 2026 lalu, presiden Prabowo membuat kejutan, “menyamar” mengunjungi warga miskin di sepanjang pinggir rel kereta api dekat stasiun Senen. Warga senang walau kaget dikunjungi oleh presiden Prabowo dan tidak menduga akan kejadian itu. Akhirnya penyamaran presiden Prabowo terbongkar dan dikenal warga bahwa yang mengunjungi mereka hari itu adalah presiden Prabowo. Tentu warga ramai berkumpul mengelilingi presiden Prabowo selama berada di pinggir rel kereta api sekitaran area Senen Raya, Jakarta Pusat. Harus memang seorang presiden atau kepala pemerintahan melakukan kunjungan ke lapangan melihat langsung situasi juga kehidupan warganya atau rakyatnya. Seorang kepala pemerintahan jangan hanya puas dan cukup mendapatkan kapiran dari para pejabat yang menjadi pembantunya. Biasanya laporan pejabat sebagai pembantu kepala itu melaporkan hanya yang baik untuk menyenangkan atasannya. Jadi kepala pemerintahan harus sering berkunjung ke lapangan ke rumah rakyatnya dengan penyamaran dan tidak seremonial agar mendapatkan fakta hidup sebenarnya.

Kunjungan presiden Prabowo itu akhir diberitakan dan membuat pesan akan dibuat atau dibangun perumahan untuk warga miskin yang tinggal di pinggir rel kereta api. Mungkin presiden Prabowo terenyuh dan tersentuh hatinya melihat rakyatnya, kok banyak sekali hidup miskin, tidak manusiawi hidup di pinggir rel kereta api tanpa bangunan permanen. Presiden Prabowo langsung memerintahkan agar PT KAI dan  pemerintah memberikan dan membangun rumah kepada warga miskin tersebut sebagai upaya menghidupi rakyat secara manusiawi. Saya juga sempat membaca release yang dikeluarkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) merespon kunjungan dan perintah presiden Prabowo. PT KAI akan mempelajari dan melakukan perintah presiden membuat perumahan kepada warga miskin yang tinggal di pinggiran rel kereta.

Keberadaan pemukiman warga miskin di pinggir rel kereta api sekitar stasiun Senen ini bukanlah baru. Warga miskin terpaksa memilih tempat tinggal di lokasi pinggir rel kereta api. Kalo berbicara keinginan memiliki rumah tentu manusiawi itu ada dalam diri mereka tetapi kemiskinan membuat mereka terpaksa membangun rumah di pinggir rel. Fakta faktor ekonomi dan kedekatan dengan tempat mencari nafkah menjadi alasan utama mereka memilih tinggal di pinggir rel dan sulit berpindah jauh dari area sekitar Pasar Senen, Jakarta Pusat. “Kami memang usaha mencari nafkah dan usahanya ada di sekitar sini. Kalo mau pindah bingung biaya sewanya dan ongkos jalannya”,  cerita warga pinggir rel Senen.

Kalo saya membaca release PT KAI itu sepertinya tidak yakin dengan perintah presiden dan tidak yakin dengan keberadaan warga miskin ada hidup di pinggir rel kereta api sekitaran stasiun Senen. Mereka menjawab dalam pers releasenya:

“KAI mendukung instruksi Presiden melalui inventarisasi permukiman warga di sekitar jalur rel dan pengamanan area. Kami berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk solusi jangka pendek, serta dengan kementerian dan pihak lainnya untuk langkah jangka panjang,” ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin.

Untuk kawasan Pasar Senen, KAI akan melakukan pengecekan dan kajian lanjutan sebagai tahap awal, yang kemudian diperluas ke titik lainnya di sepanjang jalur kereta api. Penataan kawasan bantaran rel diarahkan untuk menghadirkan hunian yang layak sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tertib di sekitar jalur rel.

Membaca sebagian isi release tersebut, sepertinya  PT KAI itu melihat bahwa tidak yakin ada pemukiman warga miskin di pinggir rel kereta api Senen seperti dilihat oleh presiden Prabowo. Sebab itu  PT KAI  perlu mengecek dulu dan mengkaji dulu lewat sebuah studi serta penelitian sangat mendalam. Setelah berkordinasi dan membangun kerja dengan pihak terkait untuk membuat keputusan bersama atas perintah presiden Prabowo.   Juga sepertinya PTAI melihat warga miskin di pinggir rel kereta api adalah masalah sehingga mereka mengatakan bahwa penataan kawasan bantaran rel diarahkan untuk menghadirkan,   menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tertib di sekitar jalur rel. Ya begitulah memang orang yang secara sosial merasa  berada lebih baik melihat warga  miskin   itu masalah yang mengganggu keamanan dan kenyamanan lingkungan sekitarnya. Situasi yang mengganggu itu maka diperlukan langkah untuk memusnahkan dan menyingkirkan warga miskin agar tidak merusak keamanan dan kenyamanan dan ketertiban di sekitar rel kereta api.

Relokasi Warga Miskin dan Lindungi Hak Hidup mereka.

Benar saja memang, nasib  warga miskin yang hidup  di pinggiran rel kereta api  dekat Stasiun Pasar Senen dibuat  berubah secara  drastis dalam waktu kurang dari 24 jam. Awalnya pada hari  Kamis 26 Maret 2026 siang, mereka masih bersorak sorai  menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto yang datang meninjau secara menyamar dan mendadak. Selanjutnya saat siang hari Jumat 27 Maret 2026, pinggir rel sekitar stasiun Senen itu  sudah menjadi  menjadi sepi. Rumah-rumah warga miskin habis dibongkar dan tersisa tumpukan puingnya saja. Padahal sehari sebelumnya ketika presiden Prabowo berkunjung lokasi tersebut masih berdiri banyak rumah sederhana tempat tinggal warga di pinggir rel kereta api. Tanpa ampun dan tanpa persiapan terlebih dulu, malam hari  dan tidak dijelaskan siapa yang memaksa dan menggusur rumah mereka dari pinggir rel kereta api Senen. Sekarang itu pemandangan pinggir rel sudah sepi tanpa tempat tinggal warga miskin. Ternyata kunjungan presiden Prabowo menjadi titik awal menggusur keberadaan warga miskin dari pinggir rel kereta api sekitar stasiun Senen Kenapa masyarakat miskin selalu  dianggap sumber masalah dan merusak pemandangan atau kumuh lalu digusur semaunya.

Kemarin masyarakat miskin di pinggir rel KA Senen, Jakarta Pusat baru didatangi presiden Prabowo dan janji mau membangun rumah layak untuk mereka. Berselang beberapa jam saja langsung masyarakat miskin itu  digusur. Mengapa tidak disusun langkah baik relokasi bagi masyarakat pindah dari pinggir rel KA Senen? Bukankah menggusur warga miskin dari lokasi pinggir rel, bukan sekedar menggusur rumah. Penggusuran paksa tersebut adalah menggusur kehidupan warga miskin dan membuat mereka tambah miskin dan sulit kehidupannya.  Mengapa langsung main gusur paksa. Bukankah warga miskin itu manusia juga dan harus diajak bicara. Hidup dan tempat tinggal adalah hak asasi setiap warga negara yang harus diberikan serta dilindungi oleh negara dalam hal ini oleh pemerintah.

Bisa juga sebelum dibangun rumah untuk warga miskin sesuai perintah presiden Prabowo, mereka diajak bicara menyusun relokasi sementara ke rumah susun (rusun) yang ada banyak di Jakarta. Beberapa waktu lalu kami, tanggal 12 Januari 2026 kami, FAKTA Indonesia mendampingi proses perpindahan warga miskin dari Kampung Ujung di komplek Pemakaman TPU Kebun Nanas, Jakarta Timur ke beberapa rusun di Jakarta Timur. Kami melakukan bersama warga persiapan dan meminta kepada Pemprov Jakarta agar memberikan rusun yang tidak jauh dari lokasi tempat tinggal sebelumnya di Kampung Ujung yang akan dijadikan perluasan pemakaman umum di TPU Kebun Nanas. Proses perpindahan dapat dilakukan dengan aman dan sekarang kami masih mendampingi warga untuk tetap membangun perubahan hidup lebih baik di rusun setelah pindah dari Kampung Ujung.

Jakarta, 28 Maret 2026

Dr. Azas Tigor Nainggolan.

Wakil Ketua FAKTA Indonesia.