
Hingga hari Jumat 30 Januari 2026 pagi banjir Jakarta masih tinggi sekitar 1,5 meter menggenangi empat RW di daerah Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Padahal hujan di Jakarta empat hari ini masih masih masuk katagori sedang. Posisi banjir di Jakarta Selatan dalam situasi empat hari ini menunjukkan penyebabnya lebih dominan adalah akibat banjir kiriman dari Bogor dan dan tersendatnya perjalanan air ke laut pesisir Jakarta Utara. Jika saluran air atau sistem drainase di Jakarta baik maka air akan berjalan lancar ke laut. Sebesar apa pun hujan di Jakarta dan air dari Bogor jika drainase bagus maka Jakarta diperhitungkan tidak akan banjir.
Masalah buruknya saluran air atau drainase Jakarta inilah yang yabg tidak pernah diselesaikan oleh gubernur Jakarta sebelum Pramono Anung. Sudah terlalu lama drainase Jakarta rusak dan mampet tanpa ada upaya perbaikan para gubernur sebelumnya. Sebelum ini, gubernur Jakarta sebelum Pak Pramono Anung ketika menjadi gubernur katanya mau menormalisasi aliran sungai Ciliwung dan lainnya tetapi tidak dilaksanakan. Persoalannya banjir Jakarta bukan sekedar sungai di Jakarta seperti Ciliwung atau lainnya yang mengecil kapasitasnya. Masalahnya juga adalah sistem saluran air atau drainase di tengah kota yang menjadi aliran air dari sungai yang sudah rusak, mampet tertutup sampah atau longsoran dinding saluran drainasenya.
Selama ini banjir Jakarta hanya menyalahkan saja air kiriman dari Bogor, ya memang sungai menyempit dan menyalahkan warga yang tinggal di bantaran sungai. Selain itu banjir Jakarta menyalahkan alam banjir rob dari laut dan tingginya curah hujan. Jadi jelas masalah penyebab banjir Jakarta adalah tingginya rusaknya saluran air atau drainase kota jakarta yang sudah akut dan harus diperbaiki. Untuk itu kita Jakarta tidak perlu lagi kaget-kaget karena sudah tahu dan merasakan penyebab besarnya adalah rusaknya sistem drainase air Jakarta. Jika kita lihat banjir banjir yang menggenangi 50 jalan raya itu berada di tengah kota Jakarta akibat rusaknya saluran air atau sistem drainase di Jakarta. Penyebab rusaknya sistem drainase ada beberapa tetapi bisa diperbaiki jika ada kemauan memperbaikinya.
Contoh kecil saja, sistem drainase di sekitar pemukiman rumah saya di Matraman, Jakarta Timur belum pernah diperbaiki selama saya tinggal disana. Saya sudah 21 tahun tinggal di Matraman, tapi belum pernah saya lihat petugas Pemprov Jakarta memperbaiki atau meningkatkan kapasitas saluran airnya. Dinding saluran airnya sudah banyak yang rusak dan longsor karena aliran air dan sampah. Jika sudah longsor maka air tergenang banyak nyamuk DBD dan terjadi genangan air hingga ke bagian hulu walau musim kemarau. Kondisi pembiaran tanpa perbaikan sudah berlangsung puluhan tahun walaupun sudah dilaporkan berpuluh kali tak ada respon. Seolah kota Jakarta tidak peduli pada warganya dan lingkungannya.
Rusaknya sistem drainase selain usia dan kotor juga rusak karena pembangunan masif tanpa aturan dan tidak memperhatikan kepentingan lingkungan kota dan warga lainnya di kota Jakarta. Pembangunan kawasan perumahan mewah dan kawasan bisnis baru dibiarkan tidak mengintegrasikan sistem saluran airnya dengan sistem drainase Jakarta yang sudah ada. Ditambahkan lagi keberadaan kota Jakarta ini tidak memperhitungkan dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan iklim yang terjadi. Sekali lagi Jakarta jangan kaget kaget kalo banjir, masalah dan solusi yang harus dilakukan sudah jelas. Mari perbaiki semua sistem saluran air atau drainase kota jakarta dan menertibkan semua bangunan baru terutama yang ada di pesisir Jakarta dan tengah kota yang merusak sistem drainase kota Jakarta. Jadi Jakarta bisa saja tidak banjir jika serius mau memperbaikinya. Perbaiki kota dan kinerja merawat tata kelola kota Jakarta saja sih.
Jakarta, 2 Pebruari 2026.
Azas Tigor Nainggolan.
Advokat di JAKARTA.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia

