
foto : Kompas
“Cara baru pemda berhasil mengatasi banjir dengan modifikasi cuaca?”, ada pesan masuk ke gejet saya.
“Yakin nih manusia mampu mengatur cuaca dan alam terus menerus sementara saluran got, drainase dan sungai dibiarkan kotor mampet. Daerah resapan air dihabisi jadi kawasan industri serta kawasan pemukiman mewah dan tidak ada yang mau menghentikan l?” Saya menjawab pesan.
Ingat apa yang kita lakukan pada Alam semesta akan kembali kepada diri kita dalam bentuk bencana. Lihat pengalaman bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kerakusan, keserakahan dan korupsi eksploitasi terhadap alam atas kemauan manusia berbuah bencana besar. Ya bencana banjir bandang besar di Sumatera bulan November 2025 adalah balasan alam semesta terhadap kerakusan penguasa merusak alam semesta selama ini.
Beberapa tahun lalu saya pernah sakit karena keletihan dan berobat kepada seorang teman yang juga seorang dokter. Saya datang untuk minta agar diberikan doping atau obat penambah tenaga karena sedang banyak kegiatan dan harus bekerja tanpa istirahat, mengejar batas waktu. “Bang badan kita itu punya keterbatasan. Jangan diforsir terus menerus. Jika badan kita lelah maka itu tanda badan kita meminta istirahat. Berikanlah badan kita istirahat untuk memulihkan energinya agar kita tetap sehat membantu kerja-kerja kita selanjutnya. Jika badan, kita forsir terus bekerja tanpa istirahat, perbaikan kesehatan bisa jadi kita akan jatuh sakit lebih parah. Istirahatlah dan manjakan badan kita. Tanpa badan kita yang sehat kita tidak berguna”, kawan dokter menasehati saya.
Pesan di atas ingin mempertanyakan cara pemerintah Jakarta yang gencar mengatasi banjir Jakarta dengan modifikasi cuaca. Mendengar rencana gubernur Jakarta, Pramono Anung ingin terus memperpanjang proyek modifikasi cuaca untuk mengatasi banjir Jakarta akibat tingginya curah hujan sebulan ini. “Pemprov sudah menganggarkan Rp 31 milyar untuk biaya modifikasi cuaca musim hujan hingga satu bulan ke depan dan musim kemarau tahun 2026”, gubernur Jakarta, Pramono Anung menyampaikan rencananya kepada para wartawan beberapa hari lalu.
Rencana modifikasi cuaca panjang ini membuat saya berpikir seperti kawan dokter. Dia yang menasehati agar saya istirahat dan memperbaiki kondisi tubuh agar tidak jatuh sakit lebih parah. Saya diminta tidak memaksa tubuh atau badan saya dengan mengkonsumsi obat doping atau suntikan vitamin. Berarti saya tidak boleh memaksa badan saya yang sudah minta istirahat dan minta diperbaiki kondisinya.
Sudah sebulan ini Jakarta diterjang banjir serius dan banyak masyarakat jadi korban. Ada yang meninggal dunia, sekitar 1500 orang warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman, ada kampung yang banjir hingga ketinggian 1,5 meter dan 20 ruas jalan macet karena tergenang air banjir setinggi 60 Cm. Sebelum ini Pemprov Jakarta sudah melakukan modifikasi untuk mengendalikan hujan yang akan turun di kota Jakarta. Tetapi tetap saja turun hujan cukup deras di Jakarta dan jadilah banjir Jakarta.
Penyebab banjir Jakarta selain karena tingginya curah hujan, juga akibat banjir kiriman dari Puncak dan Bogor Jawa Barat, banjir rob dari pesisir Jakarta dan drainase dan got mampet berkepanjangan kurang dirawat serta ditingkatkan kapasitasnya. Musim hujan sekarang ini tambah tinggi dan cuaca buruk juga diakibatkan adanya dampak perubahan iklim yang tidak diantisipasi baik.
Modifikasi Cuaca itu Hanya Doping.
Selama ini antisipasi hujan dan banjir dilakukan dengan modifikasi cuaca, mengurangi dan mengalihkan hujan ke laut. Modifikasi Cuaca bukanlah satu-satunya cara mengatasi banjir di Jakarta. Modifikasi cuaca hanyalah “doping” untuk memaksa hujan alam berpindah ke tempat lain seperti ke kawasan laut. Doping itu tidak boleh digunakan atau dikonsumsi terus menerus karena akan merusak. Sementara air laut sekarang ini juga sedang tinggi dan menjadi banjir rob menyebabkan banjir ke tengah kota Jakarta. Banjir rob juga rusaknya sistem drainase menyebabkan air hujan dari langit dan banjir kiriman dari Bogor tidak lancar jalannya ke laut. Seharusnya langkah yang dilakukan adalah menjawab masalah dari penyebabnya. Memperbaiki sesuai kebutuhan mengatasi banjir karena tingginya curah hujan Jakarta, adanya banjir kiriman dari Bogor dan banjir rob dari pesisir Jakarta dan Banten.
Jakarta harus menangani dan menyelesaikan dua penyebab lain banjir jakarta. Penyebabnya pertama adalah rusak sistem keluar masuk air dalam got atau drainase Jakarta dari tengah kota ke laut dan sebaliknya. Penyebab atau masalah kedua adalah ruang resapan air di tengah kota termasuk daerah pantai dihabisi untuk pembangunan perumahan mewah, lapangan golf atau juga kawasan industri. Jadi kedua masalah atau penyebab ini harusnya diselesaikan oleh kota Jakarta. Pertama yang harus dilakukan memperbaiki sistem dan sarana drainase sebagai alat pengelolaan air masuk dan keluar kota Jakarta. Kedua adalah memperbaiki kerusakan ekologi alam Jakarta dan sekitarnya agar air bisa lancar masuk ke dalam tanah.
Kota Jakarta jangan terus-terusan mengekploitasi, memaksa kehendak dengan melakukan modifikasi cuaca secara berlebihan. Salah jika kita terus melakukan modifikasi cuaca dan itu berarti kita menyalahkan lalu melawan alam semesta. Kita lah yang salah telah merusak alam semesta ini. Modifikasi cuaca terus menerus itu menyiksa dan kembali merusak alam semesta untuk kemauan kita. Perbaikilah juga edukasi lah diri kita sebagai manusia menjadi ramah dan menjaga alam semesta agar alam menjaga kita.
Jika kita terus menyiksa dan mengeksploitasi alam maka mungkin alam itu akan membalasnya dengan bencana yang lebih besar di kemudian hari. Banjir yang dialami Jakarta itu adalah peringatan dari alam semesta kepada kita agar segera memperbaiki alam dan tata kelola kota Jakarta. Jangan kita bandingkan, biaya modifikasi cuaca lebih kecil dibandingkan besarnya kerugian uang jika turun hujan dan terjadi banjir Jakarta.
Jakarta, 26 Januari 2026.
Dr. Azas Tigor Nainggolan
Advokat di Jakarta.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia.

