
Daerah Jln DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur ini pagi tadi kembali dilanda banjir hingga ketinggian 40-50 Cm. Daerah di Jln. DI Panjaitan ini sudah sering dan menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan. Pada Musin hujan ini pun daerah jln DI Panjaitan ini sudah alami tiga kali banjir dan menggangu arus lalu lintas dan kemacetan. Terus saja terjadi kebanjiran, kekacauan dan kemacetan yang merugikan masyarakat kota. Apalagi gangguan kemacetan itu terjadi pada pagi hari sewaktu masyarakat ingin berangkat kerja. Selalu saja jika daerah DI Panjaitan sudah banjir maka semua arus lalu lintas di sekitarnya terganggu dan macet total. Bukan saja kendaraan pribadi, transportasi umum pun tidak bisa beroperasi karena tingginya air banjir.
Situasi sudah kacau di jalan raya dan masyarakat terjebak banjir, tidak ada sistem informasi Peringatan Dini (Early Warning System) untuk menolong masyarakat lebih awal. Begitu pula kota tidak segera hadir cepat memberikan bala bantuan darurat (Emergency Respon) kepada masyarakat yang sudah terjebak dalam kemacetan banjir kota. Padahal Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) jauh hari terus memberikan informasi dan rekomendasi perkembangan cuaca. Seharusnya kota menyesuaikan diri dalam pelayanannya dan memberikan langkah mitigasi kepada masyarakatnya.
Banjir di daerah Jln DI Panjaitan ini hanya contoh salah satu dari sekian banyak banjir sejenis di Jakarta. Kebanjiran ini pertama disebabkan kan oleh tingginya intensitas hujan yang turun di Jakarta. Air hujan itu tidak bisa mengalir lancar karena gorong-gorong drainase tidak berfungsi akibat rusak dan penuh sampah. Kerusakan gorong-gorong itu disebabkan tidak ada perhatian merawat secara rutin dan dibiarkan mampet.
Penyebab keduanya adalah air hujan yang besar ini sudah tidak lancar lagi masuk ke dalam tanah karena sudah sangat kurangnya Ruang Terbuka Hijau atau RTH di daerah Cawang Jatinegara. Habisnya RTH ini dikarena berkembang pesatnya di sekitar daerah DI Panjaitan. Tanah terbuka atau RTH sudah habis digunakan untuk bangunan pembuatan jalan raya atau jalan tol.
Pada beberapa tahun lalu mungkin saja bisa dianggap enteng atau kecil saja intensitasnya. Tetapi sekarang ini akibat perubahan perubahan iklim terjadi banyak perubahan cuaca yang intensitas menjadi lebih tinggi dan besar dari sebelumnya. Artinya keberadaan kota Jakarta tidak menyesuaikan perkembangan dan perubahan iklim yang terjadi. Ditambah lagi perilaku masyarakatnya tidak berubah dan cenderung bertambah hedonis merusak lingkungan hidupnya sendiri.
Perubahan-perubahan ini sebaiknya disertasi adaptasi dan menjadi kesadaran kota untuk menyiapkan diri agar tidak merugikan masyarakat. Adaptasi terhadap perubahan dapat dilakukan dengan:
- Merawat alam lingkungan dengan baik dan mencegah kerusakan lebih parah terhadap alam di tengah perubahan iklim yang sudah terjadi.
- Merawat dan melindungi saluran air atau drainase secara baik dan konsisten sesuai perkembangan keadaan agar air lancar mengalir ke laut.
- Mengedukasi dan membangun perilaku masyarakat agar ramah terhadap lingkungan hidupnya dan sadar untuk merawatnya.
- Tata kelola kota Jakarta dilakukan dengan benar, ramah lingkungan, tidak serakah dan tidak korup, menjaga keutuhan alam dengan perkembangan kebutuhan masyarakat serta alam itu sendiri.
- Membangun sistem layanan mitigasi perlindungan masyarakat untuk memberikan sistem Peringatan Dini (Early Warning System) dan Bantuan Darurat (Emergency Respon).
Jakarta, 22 Januari 2026.
Azas Tigor Nainggolan.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia.
Kontak: 081381822567

