5 Tahun Cuci Darah, akibat Gagal Ginjal

Menyedihkan sejak usia empat belas tahun F telah mengalami Gagal Ginjal, akibat pola hidup dan kurang pengawasan orang tua. Saya tahu F karena video viral yang diposting oleh akun Tiktok Sobatpasien pada tahun 2024. Saat saya melihat video tersebut rasa takut langsung menghampiri diri saya, dan mulai bertanya “kok ada ya yang gak suka air putih”. Dalam video tersebut F menjelaskan kondisinya yang terkena penyakit Gagal Ginjal akibat tidak pernah minum air putih dan lebih sering mengkonsumsi minum-minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Penyakit Gagal Ginjal inilah yang membuat F harus cuci darah atau hemodialisis tiga kali seminggu selama lima tahun (2020-2025). Sejak awal 2025 ini F cuci darah dengan CAPD, Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis.

Sampai pada akhirnya, kami FAKTA Indonesia menggunakan video Sobatpasien untuk kebutuhan advokasi Cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Pengakuan dan pengalaman F yang tergantung dan tidak suka minum air putih itu menjadi penyebab dirinya alami gagal ginjal. Pengalaman F ini penting dan perlu diketahui serta disadari oleh publik agak tidak alami gagal ginjal.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya saya berkesempatan bertemu langsung dengan F di kediamannya, daerah Depok, Jawa Barat. Bermula bertemu dengan orang tua F yang menyempatkan pulang ke rumah padahal diwaktu itu ibu masih kerja. ya Ibu Solihah bekerja sebagai ART dekat dari rumahnya, demi keberlangsungan hidup keluarga. Sambutan baik terlihat dari ibu dan bapaknya F saat kami datang. Kami pun langsung duduk di teras rumah sederhana dengan pemandangan dapur dan jemuran pakaian. Sambil mba Siska, kawan FAKTA Indonesia ngobrol dengan sang ibu, saya siapkan peralatan untuk wawancara F.

Ada empat belas pertanyaan yang sudah disiapkan oleh penanggung jawab “Studi Kasus Pengalaman Anak dan Remaja Penderita Diabetes dan Gagal Ginjal Akibat Konsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK)”, yaitu Catherine. Namun beberapa kali pertanyaan itu saya kembangkan untuk mengorek lebih dalam terkait penyakit yang dialami oleh F, beberapa kali pertanyaan saya lontarkan mirip dengan video viral sobatpasien. “Benar kamu tidak pernah konsumsi air putih? Boleh sebutkan jenis minuman kemasan apa yang kamu minum setiap hari?”, tanya saya kepada F. Saya senang F selalu menjawab pertanyaan saya sesuai konteks pertanyaan, dan tepat sasaran.

Setelah kamera off kami dan wawancara selesai, kami masih berbicara santai dengan F dan keluarga. Selama proses wawancara F sempat memperlihatkan kondisi badannya akibat cuci darah. “Pegang aja mas gak apa-apa, kalau sekarang sudah tidak bisa lewat sini mas, sambil memegang area sekitar leher, karena sudah tersumbat. Jadi sekarang saya lakukan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) cuci darah melalui perut mas, dan dilakukan sendiri. Dalam sehari saya lakukan CAPD sebanyak enam kali. Jadi 4 jam sekali saya harus ganti cairan ini”, F menjelaskan proses CAPD sambil menunjuk perut yang terlilit selang.

Hari sudah sore, saya dan Siska juga ingat kalau ibu masih bekerja, kami izin pamit dan tak lupa memberi bingkisan untuk F. Sambil pamit pulang saya juga memberi dukungan kepada F untuk tetap semangat menjalani semua ini.

Rayi Fahmi
12 Agustus 2025