Mengunjungi kembali Pulau Pramuka. 

Kapal kami sandar di dermaga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta agak siang. Rencana awal kapal akan berangkat jam 08.00 wib dari pantai Marina Ancol. Ternyata kami baru berangkat sekitar jam 09.00 wib dan tiba sekitar jam 10.30 wib di pulau Pramuka. Begitu kapal sandar dan kami turun dari kapal saya melihat perubahan sekitar pelabuhan Pukau Pramuka yang lebih bagus dari sebelumnya. Sudah banyak kemajuan dari sekitar 15 tahun lalu terakhir saya ke Pulau Pramuka. Keluar dermaga sudah ada gapura besar dan jalan yang sudah bagus dan ada kawasan jajan UMKM di samping dermaga.

Lima belas tahun lalu saya pernah ke Pukau Pramuka untuk kunjungan bersama teman-teman Dewan Transportasi Kita Jakarta (DTKJ) bersama Dinas Perhubungan Jakarta. Kami saat itu berkunjung untuk melihat fasilitas transportasi penyeberangan berupa dermaga serta kapal di Kepulauan Seribu. Saat itu juga ada masalah dermaga dan kapal penyeberangan yang kurang aman atas laporan warga Kepulauan Seribu. Ketika itu kami tidak menginap hanya datang pagi dan kembali ke Jakarta daratan sore hari. Sekitar dermaga dan kantor pemerintahan ketika masih berupa pemukiman sederhana dan terbatas. Kondisinya juga belum ramai pengunjung atau wisata di Pulau Pramuka.

Kunjungan kali ini adalah yang keempat kalinya dan rencana kami akan menginap dua malam di sebuah penginapan di Pulau Pramuka. Sebelumnya kunjungan saya ke Pulau Pramuka belum pernah menginap. “Wah sudah banyak kemajuan dan bagus ini Pulau Pramuka. Sekarang banyak penginapan yang sederhana tapi bangunannya bagus serta lebih tertata rapai di sepanjang pantai dari dermaga. Dulu sekitar 15 tahun lalu belum seperti ini Pulau Pramuka tapinya”, cerita saya pada kawan-kawan FAKTA Indonesia.

Sampai kami di penginapan, saya melihat penginapannya lumayan bagus dan bersih. Saya memang yang mengusulkan acara Fakta FAKTA ke Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka menjadi pilihan karena ini adakah ibu kota Kepulauan Seribu. Harapan saya, teman-teman FAKTA bisa mendapatkan pengalaman dan penglihatan sisi lain Provinsi Jakarta. Setidaknya teman FAKTA akan dapat melihat dan merasakan salah wilayah Kepulauan Seribu yang jelas banyak keterbatasan dibandingkan dengan wilayah daratan Jakarta lainnya. Ya memang kelihatan Pulau Pramuka air pantainya bersih dan bening, jalan rayanya bagus dan bayak sepeda listrik hilir mudik.

Saya mencari tahu jika ingin mengelilingi Pulau Pramuka seberapa jauh dari warga sekitar penginapan. “Keliling pulau ini hanya sekitar 2,5 Km. Kita bisa mengelilingi hanya dalam waktu sekitar 30 menit saja”, info pak warung samping dermaga. “Tapi saya melihat banyak sampah ditumpuk dan berterbangan di jalan. Kondisi ini saya bertanya dalam hati,” kenapa kotor seperti ini ketika saya coba melihat kantor Bupati Kepulauan Seribu, dekat dengan dermaga pelabuhan”. Sambil berjalan kaki saya berpikir lagi tentang sistem pengelolaan sampah di Pulau Pramuka. Luas Pulau Pramuka sekitar 8,7 Km2 atau 16,5 Ha dan pada tahun 2024 jumlah penduduknya sebanyak 30.334 jiwa. “Bagaimana pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dalam mengelola sampah di Pulau Pramuka?”, pikir saya.

Pagi hari pertama, saya bersama dua ok rang teman FAKTA bangun pagi sekitar jam 06.00 wib keliling jalan pagi hendak mengelilingi Pulau Pramuka. Saat jalan kami bertiga melihat banyak sampah ada dimana-mana dan tidak dibersihkan. Selain itu juga kami melihat ada banyak sampah berupa bangkai badan kapal yang rusak dan tidak digunakan lagi tertumpuk sembarangan di pantai atau di semak-semak tanaman bakau dan di taman-taman sekitar pemukiman warga. Berjalan terus kami, menyusuri jalan di pinggir pantai.

Sampailah kami di satu titik pantai yang kelihatan sangat kotor juga berantakan. Kami melihat ada mesin incenerator alat pembakar sampah yang teronggok tidak terurus dan dikelilingi sampah. “Oh Pulau Pramuka ini menggunakan cara membakar sampah untuk mengelola sampah warganya. Tapi ini mesinnya kelihatan rusak dan tidak terurus. Lalu sampahnya diletakkan dimana”, tanya saya kepada dua teman FAKTA yang berjalan pagi bersama saya. “Coba kita jalan lagi dan sambil mencari jalan untuk keliling pulau”, seorang teman menjawab saya. Kami memang saat itu alami jalan buntu untuk mengelilingi Pulau. Sesampai di titik lain, pinggir pantai yang ditunjukkan oleh peta elektronik sebagai jalan keliling pulau. Kami dihadapkan pada tumpukan sampah sangat beraroma busuk dan menutupi jalan. Sampah karena sangat banyak tumpah menutupi jalan dan pantai sekitar 100 meter.

“Ah jalan ini tidak bisa kita lewati karena tertutup sampah, sepertinya jadi Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS). Akhirnya kami mencari jalan lain untuk mendapatkan jalan alternatif keliling Pulau Pramuka. Memang akhirnya kami tidak bisa sempurna mengelilingi Pulau Pramuka karena ada bagian jalan yang dijadikan tempat pembuangan sampah. Selesai jalan pagi kami mampir ke satu warung lain dekat dermaga untuk istirahat dan menikmati pantai sambil minum kopi. Saya coba bertanya kepada seorang bapak pemilik warung tentang sampah dan pengelolaannya di Pulau Pramuka.

Bapak itu menceritakan bahwa sampai di Pulau Pramuka awalnya dikumpulkan dan dibakar di alat pembakaran yang sempat saya temukan dekat jalan Pantai yang ditutupi tumpukan sampah. “Cuma alat itu salah peletakannya. Jika sedang angin Timur petugas membakar sampah. Akibat masyarakat sering marah pada petugas kebersihan karena kampungnya ditutupi asap pembakaran sampah. Sekarang alat itu rusak dan sampah ditumpuk di atas jalan di sampingnya sambil menunggu diangkat untuk dibawa ke TPS dan TPA di Jakarta. Sampah diangkut oleh kapal besar seperti kapal tongkang dan selanjutnya dibawa keluar pulau Pramuka”, cerita bapak pemilik warung.

“Kenapa sampah diangkut dengan kapal keluar pulau dan ke Jakarta? Jadi mahal dong biayanya menangani sampahnya. Kenapa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu tidak membuat sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan? Kenapa urusan sampah menambah beban biaya untuk mengangkut memindahkannya ke Jakarta? Bukankah sampah bisa menghasilkan uang jika diolah dengan benar? Kenapa Pemkab Kepulauan Seribu justru memilih cara membakar dan sekarang mengangkut ke Jakarta yang berbiaya mahal?” Tanya saya lagi membahas cerita si bapak warung. “Iya memang aneh Pulau Pramuka kok malah buang sampah ke Jakarta daratan? Kan menghabiskan uang dan tidak menyelesaikan masalah sampah”, si bapak warung menjawab saya dengan pertanyaan kembali.

Sehabis kami diskusi di warung, kami melanjutkan perjalanan dan kembali ke penginapan. “Jika pengelolaan sampah masih seperti ini, maka Kepulauan Seribu akan menjadi wilayah yang kotor dan tidak sehat. Akibatnya wisatawan tidak mau berkunjung ke Pulau Pramuka karena kotor. Sekarang saja jika kita sedang duduk atau makan, banyak lalat datang mengganggu dan mengotori makanan yang ada di meja makan”, saya menyimpulkan dalam hati. Diskusi saya tentang sampah itu memberi beberapa catatan yang bisa dilakukan oleh Bupati Kepulauan Seribu dalam mengelola sampah. Banyak pilihan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, sehat dan dapat menghasilkan uang. Pulau Pramuka bukanlah pulau yang besar dan penduduknya masih bisa dijangkau oleh kunjungan harian Bupati. Pemkab Kepulauan Seribu dapat mengumpulkan warganya di taman depan kantor Bupatinya untuk berdiskusi bersama Bupatinya seperti rapat warga kota zaman Yunani. Kapasitas lokasi Pulau Pramuka yang masih terjangkau ini akan membuat warga dan Bupati bisa lebih dekat membangun pulaunya agar warga ya sejahtera.

Pulau Pramuka, 16 Juli 2025.
Azas Tigor Nainggolan.
Wakil Ketua FAKTA Indonesia.