Pernyataan Pers No. 11/RLS/III/2026

Gunung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat longsor lagi. Terakhir, sebelumnya pada tanggal 7 November 2025 gunung sampah di TPA Bantar Gebang pernah juga longsor. Gunungan sampah di TPA Bantar Gebang ini mengalami longsor menimpa sejumlah mobil truk sampah dan pekerja di lokasi pembuangan sampahnya. Membaca berita longsornya gunungan sampah TPA Bantar Gebang ini saya jadi teringat ketika saya mengikuti kegiatan belajar mengolah sampah bersama yang diadakan oleh Green Peace tahun 2003 di Taiwan.
Kota Taipei merupakan salah satu kota di Taiwan yang berhasil mengelola sampah dengan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selanjutnya pada tanggal 8 Maret 2026 gunungan sampah di TPA Bantar Gebang kembali langsong dan menimpa truk sampah yang sedang parkir membuang sampah beserta pekerjanya. Kejadiannya ini sama, dua kali yakni hubungan sampah longsor dua kali di TPA Bantar Gebang dan hanya keledai yang jatuh di lobang yang sama dua kali. Sementara kota Jakarta jatuh di tempat sampah berkali-kali.
Pengelolaan sampah di Bantar Gebang salah sejak awal dan tidak sesuai yang diceritakan ke publik. TPA Bantar Gebang yang dibangun sejak 1990 hanya menampung atau menumpuk sampah di area TPA. Sejak awal hingga hari ini pengelolaannya TPA Bantar itu hanya menumpuk sampah Jakarta yang dibawa dan ditimpuk di TPA hingga menjadi gunungan sampah yang rapuh, mudah longsor juga kebakaran. Gunungan sampah pernah terbakar tanggal 20 Agustus 2023 dan longsor 8 September 2006. Sejak awal dikatakan bahwa pengelolaan sampah di TPA Bantar Gebang dengan cerita metode “Open Dumping“. Sampah yang dibuang ke TPA Bantar Gebang menjadi gunungan sampah karena hanya ditumpuk tanpa pengolahan. TPA Bantar Gebang dibangun sejak tahun 1988 oleh Dinas Kebersihan Jakarta. Semua sampah warga Jakarta ini dibuang dan ditumpuk di TPA Bantar Gebang tanpa diolah agar sampah berkurang secara signifikan. Akibatnya sampah menumpuk menggunung dan menimbulkan bahaya longsor karena asal tumpuk menjadi gunung sampah yang sangat rapuh. Pada tanggal 8 Maret 2026 gunung sampah runtuh dan longsor menimbun truk pembawa sampah dan pekerja pengelola sampah para pemulung. Data terakhir korbannya 13 orang tertimbun, 6 orang selamat dan 7 orang meninggal dunia.
Mengelola Sampah dengan Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.
TPA Bantar Gebang disebut oleh pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta sebagai tempat pembuangan sampah terpadu (TPST). TPST Bantar Gebang di Bekasi luas totalnya sekitar 120 hektar. Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang dikelola Pemprov Jakarta ini menampung lebih dari 7.500 hingga 8.000 ton sampah setiap hari sejak tahun 1989. Ketinggian tumpukan sampahnya kini mencapai 40-50 meter, bahkan dilaporkan bisa mencapai 70 meter di beberapa titik. Air kotor dari tumpukan sampah yakni Lindinya masuk ke tanah dan mengotori air warga Bekasi. Begitu pula aroma busuk sampahnya bisa tercium sampai radius 5 Kilometer. Ketinggian tumpukan sampah mencapai 40-50 meter, yang setara dengan gedung 15-16 lantai yang berisi sampah rumah tangga, perkantoran, dan pasar yang berasal dari Jakarta.
Model pengelolaan sampah Jakarta memang hanya membakar atau menumpuk di TPA Bantar Gebang. Ada juga alat membakar sampah atau incenerator di lokasi TPA Bantar Gebang oleh Pemprov Jakarta. Alat pembakar sampah ada juga dibangun beberapa di tengah kota Jakarta. Sejak awal memang pengelolaan sampah di TPA itu ada mulai Velbak, Jakarta Selatan berpindah Senen dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat karena membutuhkan lahan pembuangan lebih luas.
Berkembangnya kota dan sampahnya TPA berpindah lagi ke wilayah Cakung Cilincing, Jakarta Utara sejak tahun 1970an. Akhirnya karena jumlah sampah warga Jakarta tambah dan tidak ada pengelolaannya maka membutuhkan lahan lebih luas maka tahun 1989 pindah ke Bantar Gebang. Lokasi TPA juga terus bertambah luas seiring bertambahnya volume sampah warga Jakarta hingga menjadi sekitar 120 hektar sekarang ini. Semua TPA yang pernah ada di Jakarta caranya sama saja yakni angkut, tumpuk dan bakar hingga hari ini.
Sementara kota Taipei, Taiwan saat saya kunjungi tahun 2003 sudah meninggalkan cara membakar sampah. Kota Taipei sejak 2003 tidak membakar sampah lagi dan meninggalkan incenerator mereka sebagai bangunan sejarah. Warga dan pemerintah kota Taipei melakukan pengolahan sampah mendaur ulang sampah menjadi barang berharga seperti alat baru serta kompos. Alat baru yang dihasilkan dari sampah di Taiwan adalah sepatu, pakaian dan tas dari sampah plastik. Salah satu incenerator terbesar di kota Taipei dijadikan tempat rekreasi menjadi restauran dengan model lift bergerak dari bawah ke atas. Pengunjung lift bekas incenerator bisa menikmati pemandangan kota Taipei yang indah sambil makan juga minum. Sampah organik diolah menjadi produk bahan media tanam (Kompos) menanam pohon bambu dan menghasilkan bambu muda (rebung) yang merupakan konsumsi utama masyarakat Taiwan.
Jadi kalo kita lihat, cara pengolahan sampah Jakarta sudah sangat ketinggalan dan suda tidak ramah lingkungan dan merugikan masyarakat. Berbeda dengan kota Taipei yang berhasil mengolah sampah dan berkelanjutan hingga saat ini, sampah diolah menjadi barang berharga bagi masyarakat. Mungkin perlu juga Pemprov Jakarta belajar dari pengalaman berhasil kota-kota Taiwan seperti Taipei yang sudah berhasil melakukan program mengolah atau mendaur ulang, mengurangi dan menggunakan ulang sampah masyarakatnya dengan baik dan berkelanjutan.
Tuntutlah Ilmu dan Belajarlah Hingga ke Negeri Cina. Tinggalkan cara menumpuk dan membakar sampah. Olah sampah menjadi barang berharga. Kurangi sampah dari diri kita dan rumah kita. Pemerintah fasilitasi masyarakat dengan sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Jakarta, 12 Maret 2026.
FAKTA Indonesia.